Minggu, 18 Agustus 2013

Hujan Badai dan Petir Per Juli 2013: Keterhuyungan Bumi

Baca juga:


Pada 14 Juli 2013, Oklahoma dan Texas mengalami anomali sistem badai yang menyebabkan hujan badai dan petir serta hujan lebat yang mengguyur wilayah-wilayah kering di sana. Sementara, di Indonesia, di bulan Juli lalu juga, hujan-hujan badai yang terkadang disertai petir melanda banyak wilayahnya (Baca juga: Musim Normal). Mengapa bumi sepertinya mengalami peralihan musim (pancaroba) yang terus-menerus, yang notabene tidak sesuai jadwal normal musimnya? Ini, tentu saja, seperti yang selalu dijelaskan sebelumnya, merupakan ulah bumi yang terhuyung-huyung. Para alien Zeta menjelaskan bahwa badai tersebut terbentuk akibat keterhuyungan bumi yang telah membuat arah angin bergerak menyimpang dari efek koriolis. Efek koriolis (lihat gambar di bawah ini) memberi sifat pergerakan/arah angin di bumi dalam kondisi-kondisi normal. Berikut laporannya, beserta penjelasan ZetaTalk.

Credit: Coriolis Effect (wikipedia)


Terjemahan bebas dari Evidence of Wobble, The ZetaTalk Newsletter, Issue 359, Sunday August 18, 2013

Apa yang menyebabkan badai retrogade melaju dari Pantai Timur ke Pantai Barat di AS? Kalau gerakan membalik itu pernah terjadi di masa lalu, untuk jarak-jarak tempuh yang pendek dan untuk periode-periode pendek, di masa sekarang ini belum terdengar. Gerakan retrogade dari Timur ke Barat dilipatgandakan oleh arah udara yang berpusar-pusar melawan arah jarum jam. Sedangkan badai-badai di AS normalnya bergerak dari Barat ke Timur, dan melingkar searah jarum jam yang selaras dengan Efek Koriolis. Menurut para alien Zeta, ini adalah bukti lain lagi adanya keterhuyungan bumi setiap harinya, yang terus memburuk.
Unusual Storm System Moving Backwards Across United States, July 14, 2013 /theweatherspaceAn unusual storm system is over Oklahoma and Texas at this time, causing severe thunderstorms and much needed rainfall to the dry areas of both states. A low pressure system that started in the Eastern United States has retrograded under a ridge of high pressure to the north over the last couple of days.  This system is moving from east to west, which is extremely unusual for this hemisphere.  We’ve seen these move east to west for a short period of time, but this one will make it to Southern California by the time it weakens.

Penjelasan ZetaTalk 27 Juli 2013: "Bagian dari keterhuyungan bumi sehari-hari, yaitu gerak angka 8 yang dilakukan oleh Kutub Utara selama keterhuyungan itu, adalah beralihnya posisi Kutub Utara ke kanan lalu ke kiri.
Apa yang sesungguhnya dilakukannya itu adalah, pertama-tama, menciptakan sebuah vakum di Atlantik Utara, menyedot udara dari Amerika Utara ke Atlantik Utara, lalu mendorong semua udara itu kembali ke Amerika Utara. Tarikan dan dorongan udara ini terjadi secara langsung berlawanan dengan Efek Koriolis, yang melingkari massa-massa udara searah jarum jam di Belahan Bumi Utara, naik sampai ke Garis Khatulistiwa, lalu berputar kembali. Dengan demikian, arus retrogade udara dari Timur ke Barat terjadi berlawanan arah jarum jam. Semua itu akibat keterhuyungan bumi." 

Hujan Badai dan Petir di Indonesia Selama Juli 2013
Berikut sebagian kecil saja dari banyak beritanya.

Musim peralihan, angin kencang & petir mengancam Pantura /sindonewsPrakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tegal, Laylya Isnaeni, menyatakan saat ini wilayah Pantura sedang memasuki musim peralihan. Musim peralihan yang dimaksud adalah peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Menurutnya, saat peralihan tersebut, masyarakat diminta untuk waspada adanya hujan lebat sesaat yang disertai kilat/petir.

BMKG: Kupang Waspada Angin Kencang 50 Km/Jam /kompasMasyarakat, terutama nelayan dan pelaut di Nusa Tenggara Timur diminta untuk mewaspadai angin kencang yang melanda wilayah NTT bagian Timur dan Selatan yang kecepatannya 45-50 kilometer per jam. "Wilayah NTT masih berpotensi mengalami angin kencang yang sifatnya fluktuatif dan akan terus berlangsung hingga Agustus 2013, sehingga perlu diwaspadai," kata Kepala Seksi Informasi dan Observasi BMKG Kelas II El Tari Kupang Syaiful Hadi, Selasa (16/7/2013). Ia mengatakan, kondisi ini tampaknya mengikuti pola tekanan udara tinggi di Australia yang juga selalu bergeser dengan sistem jeda sekitar dua hingga tiga hari, kecepatan angin akan melemah, kemudian menguat kembal. "Untuk saat ini kecepatan angin maksimum, dapat mencapai 50 km/jam, sehingga tidak saja menyebabkan suhu minimum di bawah kisaran 20 derajat celcius, tetapi juga menyebabkan angin kencang," katanya. 

Angin Kencang, Rumah Ditimpa Pohon Kelapa /medanbisnis Rumah A Yani (43) di Desa Paya Ru, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, hancur setelah ditimpa pohon kelapa setinggi 15 meter yang tumbang akibat diterpa angin kencang yang melanda kawasan Bireuen, Kamis (13/6) sekitar pukul 13.30 WIB. Tidak ada korban jiwa atau luka dalam musibah tersebut, meski pemilik rumah dan istrinya tengah berada di dalam rumah. Sementara rumah gubuk berukuran 4x5 meter yang selama ini didiami Yani dan istri bersama dua orang anak rata dengan tanah. Yani didampingi isterinya Ainal Mardiah (41) mengatakan, angin berhembus sangat kencang dari arah barat, tiba-tiba rumahnya rubuh. Dia mengira rumahnya rubuh sebab angin kencang, setelah itu barulah dia sadar kalau ada pohon kelapa yang menimpa rumahnya.

Angin Kencang dan Hujan Lebat Landa Kota Langsa /aceh.tribunnewsAngin kencang dilanjutkan turunnya hujan lebat, Kamis (25/7/2013) malam melanda wilayah Kota Langsa. Angin kencang mengakibatkan sejumlah tenda pedagang kaki lima yang berada di kawasan Jalan T Umar dan Jalan Sudirman di pusat Kota, berterbangan. Angin kencang bak angin puting beliung dengan durasi diperkirakan mencapai 10 menit ini, sempat membuat cemas warga sekitar. Tidak sedikit sejumlah tratak (tenda) maupun barang dagangan milik pedagang pakaian, sendal, dan sapatu yang didirikan di bagian trotoar depan ruko, sempat berserakan dihempas kencangnya angin.

Warga Yogyakarta Diminta Waspadai Angin Kencang /republikaBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yogyakarta meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadinya angin kencang akibat cuaca yang fluktuatif. "Selama gangguan cuaca jangka pendek yang mengakibatkan fluktuasi cuaca masih ada, angin kencang masih berpotensi terjadi," kata Kepala Pusat Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, Tony Agus Wijaya di Yogyakarta, Rabu (3/7). Menurut dia, angin yang sering terjadi selama musim kemarau basah saat ini, memiliki kecepatan 40 hingga 60 km per jam. Angin tersebut diakibatkan adanya awan cumulonimbus yang dipicu fluktuasi cuaca. "Pemanasan lokal mengakibatkan terbentuknya awan konvektif yang memicu munculnya awan cumulonimbus. Awan tersebut mengakibatkan cuaca ekstrem yang di antaranya berupa angin kencang," katanya. Menurut dia angin tersebut relatif masih aman apabila disertai dengan pemangkasan pepohonan yang terlalu rimbun dan tua.Meski demikian angin tersebut tetap berpotensi menjadi puting beliung.