Sabtu, 01 Maret 2014

Hidup di Zona Vulkanik, Status Lempeng Sunda Per Februari 2014

Seperti yang telah diprediksi oleh ZetaTalk, gunung-gunung berapi yang berusia minimal 10.000 tahun--banyak yang sudah lama sekali tertidur-- akan aktif hingga mencapai puncaknya, pada Jam Pergeseran Kutub. Lalu bagaimana manusia harus menjalani hidup sekarang ini hingga nanti, dan bahkan setelah Pergeseran Kutub? Berikut saran-saran para alien Zeta mengenai hal itu.




Terjemahan bebas Life in the Volcano ZoneThe ZetaTalk Newsletter Issue 387, Sunday March 2, 2014 

Para alien Zeta telah memperingatkan bahwa gunung-gunung api akan meletus selama Jam Pergeseran Kutub
Itulah alasannya akan terjadi cuaca suram selama 25 tahun yang telah diprediksi akan mengikuti. [Baca: Pasca Pergeseran Kutub: Mendung dan Gerimis Dua Dekade]
Namun akan ada tempat-tempat di Bumi yang disinari matahari, dan tingkat kesuraman cuaca itu akan bervariasi, tergantung pada lokasi. Dan Yellowstone tidak akan menjadi super volcano, menurut para alien Zeta. [Baca: Prediksi ZetaTalk: Gunung Berapi Saat Pergeseran Kutub]

Prediksi ZetaTalk 16 Nov. 2002
"Telah kami nyatakan bahwa seluruh gunung api yang aktif dalam waktu 10.000 tahun terakhir dapat dipertimbangkan sebagai kandidat-kandidat yang akan meletus atau yang menyemburkan lava selama pergeseran kutub. 
Seluruh gunung api yang selama ini aktif dalam ingatan manusia akan mulai mengeluarkan asap dan batuk dan menyembur, dan banyak gunung api yang tidak diekspektasi untuk aktif akan aktif kembali. [Baca: Erupsi Gunung Chili Mei 2008, Setelah Ribuan Tahun Tidur]
Selama setiap pergeseran kutub, ada tempat-tempat di Bumi dimana tanahnya teregang, seperti misalnya di Atlantik, sedemikian rupa sehingga pegunungan-pegunungan seperti Appalachian tidak mengalami pembentukan gunung dan hampir-hampir tidak ada formasi bebatuan yang muncul di permukaan tanah di sana yang telanjang.
Tempat-tempat seperti pegunungan Himalaya sedang menyubduksi, sehingga lapisan bebatuannya saling bertumpukan, serta melindungi dari lava yang terjadi. Demikian pula dengan Hawaii, negara ini telah diekspektasi untuk bernasib lebih baik ketimbang yang dikira orang, karena pengompresian lempeng-lempeng Pasifik akan membuat lapisan-lapisan bebatuan serta melindungi sedemikian rupa sehingga gunung-gunung apinya tidak menyemburkan lava yang bergolak.
Di New Zealand, dimana tepian lempengnya akan terjungkit ke atas, pergerakan itu akan memberi suatu perlindungan sehingga gunung-gunung apinya tidak meletus karena tekanannya akan mengalami pelunakan.
Demikian pula, dimana ada sebuah peregangan sebagaimana yang akan dialami Islandia, akan ada semburan vulkanik yang terus-menerus, namun letusan-letusan yang disebabkan oleh lava yang mengalami tekanan kemungkinan sekali tidak akan terjadi.
Kawah dalam daratan, seperti Yellowstone, memiliki basisnya dalam tekanan yang memiliki rute panjang untuk naik sebelum memanaskan permukaannya. Akan ada letusan-letusan lava, meskipun tidak ganas, dari gunung-gunung api seberapapun aktifnya di sepanjang pegunungan-pegunungan Sierra dan Andes.
Pada bagian waktu yang belakangan dari Jam Pergeseran Kutub, akan terjadi pendorongan lapisan bebatuan ke bawah Pantai Barat benua-benua Amerika, mematikan akses lava dari gunung-gunung api ini.
Demikian pula, di wilayah-wilayah yang mengalami peregangan, di Eropa dan Timur Tengah, lava yang bergolak akan menyebabkan penyemburan, dan, kalau gunung-gunung apinya sudah terbuka ke udara, akan tercipta outlet (pelepasan), seperti misalnya di Itali. Dan ini akan terus meletus dan menyemburkan lava selama bagian awal pergeseran kutub.
Maka orang harus menganalisa masa lalu gunung-gunung api lokal atau kaldera-kaldera lokal, untuk mengukur tindakan-tindakan mereka selama pergeseran kutub nanti."

[Pelejitan Erupsi Vulkanik Global Dan Realita Hidup di Wilayah Gunung Api]
Pelejitan aktifitas vulkanik sudah nyata, sebagaimana ditunjukkan dalam newsletter 172. [Baca: Pelejitan Erupsi Vulkanik Per 2010 Februari]
Ini pada khususnya di Indonesia, sebagaimana yang didetilkan dalam newsletter 2010. [Baca: Erupsi Indonesia Oktober 2010]
Blog Pole Shift ning tentang gunung berapi mendetilkan pelejitan ini dalam konteks pengalaman nyata manusia. Dan para alien Zeta menyarankan untuk berada 100 mil (sekitar 161 km) dari gunung api manapun yang kemungkinan sekali akan meletus, ini untuk alasan-alasan yang sah sebagaimana yang ditunjukkan citra berikut. 


Gunung api Indonesia Kelud kembali mengalami erupsi, di awal  Februari 2014, yang memaksa evakuasi sementara wilayah terhadap 200.000 orang. [Baca juga: Prediksi ZetaTalk: Gunung Berapi Indonesia Selama Tahap 7]
Pergerakan-pergerakan lempeng Tahap 7 terus mendorong Jawa ke bawah lengkungan Lempeng Indo-Australia, sementara Jawa memiliki barisan gunung-gunung api yang aktif--wilayah paling aktif di seluruh dunia. [Baca juga: Domino Letusan Gunung Berapi dan Gempa Per Nov. 2013, Akan Kontinual]
 
Kelud: Kelud is a volcano located in East Java on Java in Indonesia. Like many Indonesian volcanoes and others on the Pacific Ring of Fire, Kelud is known for large explosive eruptions throughout its history. More than 30 eruptions have occurred since 1000 AD. It last erupted on February 13, 2014. http://en.wikipedia.org/wiki/Kelud
Abu vulkanik memang menakutkan, dan dapat membunuh, merubah abu itu menjadi suatu jenis semen di dalam paru-paru. Maka, ada perlunya untuk evakuasi, setidaknya untuk sementara waktu. Namun abu yang sama ini, atau perrontokan bertahap lava mengeras yang dimuntahkan dari gunung api, menghasilkan tanah yang sangat subur! Inilah alasannya para warga desa kembali ke lereng-lereng gunung-gunung api. Tanaman-tanaman pangannya subur.
More than 200,000 People Evacuated and Five Airports Closed, February 14, 2014A volcano erupted on the heavily populated Indonesian island of Java today, sending a huge plume of ash and sand 10 miles into the air and forcing the evacuation of more than 200,000 people and the closure of five airports. Indonesia's national disaster agency ordered the evacuation of all families living within a six-mile radius of Mount Kelud. http://www.dailymail.co.uk/news/article-2559205/More-200-000-people-evacuated
 

[Pemilihan Lokasi Survival]
Menurut para alien Zeta, membuat petak lokasi kamp-kamp surviver harus memasukkan analisa gunung api. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan: 

arah angin, ketinggian wilayah karena abu vulkanik lebih tipis di altitude yang lebih tinggi, naiknya air laut akan memaksa gunung-gunung api terbenam ke bawah air, dan apakah gunung api itu sedang terbatuk-batuk atau menyemburkan lava.
Nasehat ZetaTalk 10 Agt. 2002
"Telah kami nyatakan bahwa Bumi akan tertutup di bawah cuaca suram debu vulkanik (volcanic dust gloom) selama 25 tahun.
Sudah jelas bahwa hal ini akan tergantung pada wilayahnya, yang berada di dekat dengan gunung-gunung api yang batuk, yaitu searah angin berhembus atau melawan /membelakangi arah angin, serta ketinggian wilayahnya.
Volcanic  gloom selalu lebih berat dalam jarak ribuan mil yang searah angin berhembus dari gunung api.
Maka, apabila orang berada di luar koridor arah angin berhembus, orang dapat lolos dari jatuhan vulkanik yang berat. 
Volcanic gloom selalu lebih berat di ketinggian yang lebih rendah di tempat-tempat semacam itu, karena partikel-partikel yang lebih berat jatuh kembali ke bumi, setelah berada di udara akibat kekuatan (energi) panas yang meningkat atau letusan-letusan. 
Dan ketinggian wilayah yang tinggi sebesar sekitar 500 mil (sekitar 805 km) searah angin berhembus dari sebuah gunung api yang sedang terbatuk-batuk akan mendapati debu vulkanik yang lebih sedikit ketimbang yang di wilayah berketinggian 1000 mil (sekitar 1609.34 km) searah angin berhembus.
Ukuran gunung api juga penting, serta apakah gunung tersebut berada di bawah air atau di atas tanah.
Ini memang terdengar bodoh, namun harus dipertimbangkan ketika merencanakan lokasi survival. Ingatlah bahwa ketinggian muka laut akan naik--estimasi kami adalah 675 kaki di atas muka laut sekarang. [Baca: Pasca Pergeseran Kutub: Air Laut Dunia Naik 198-213 meter]
Apabila sebuah gunung api seperti misalnya yang ada di Indonesia atau Filipina atau Amerika Tengah terbenam di bawah air selama masa ini, abunya akan terbawa oleh air, bukan udara. Juga, sebagian gunung api menyemburkan lava, sedangkan yang lainnya terbatuk-batuk mengeluarkan asap, maka jumlah abunya dapat berbeda."

=====================
Mempelajari Gunung Api di Wilayah Masing-Masing
Seperti yang telah dialami wilayah-wilayah yang selama ini mengalami erupsi vulkanik, mereka yang memikirkan survival penting untuk mengetahui sifat gunung api di wilayah masing-masing, setidaknya untuk arah angin berhembus dan ketinggian kolom erupsi. Terutama untuk lokasi survival pergeseran kutub, hal ini menjadi vital bagi Indonesia, termasuk propinsi Papua dan Bali, tentunya.

Berikut dua berita saja sebagai contohnya.
Fakta & Kondisi Bencana Sinabung Dalam Rekam Jejak Kamera, 15 January 2014: ...... Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara masih sangat tinggi. Pada Rabu (15/1) dari dini hari hingga 12.00 WIB terjadi gempa letusan didominasi awan panas berkisar hingga 17 kali. Tremor yang terus menerus. Aktivitas letusan yang diikuti oleh awan panas dan tinggi letusan 2.500 - 4.500 m ke arah Tenggara Selatan. Gempa vulkanik dan gempa hybrid masih tinggi. Untuk luncuran abu vulkanik berkisar sejauh 1.000 - 4.500 m ke arah Selatan Barat Daya. Mewaspadai hujan yang menyebabkan banjir lahar dingin di sekitar gunung. Aktivitas gunung saat ini masih tinggi status level IV (Awas). http://mediacenter.or.id/respon/reports/view/204#.UxJ0PMFhB48
Letusan Gunung Kelud Mencapai 700 Kilometer, 16 Feb. 2014: ..... Pada ketinggian 1.500 meter hingga 3.000 meter, arah angin menuju utara dan timur laut. Lalu, pada ketinggian 5.000 meter berubah ke barat laut. Di antara ketinggian 10.000 meter dan 15.000 meter, angin bergerak ke arah barat dan barat daya, sedangkan di atas 15.000 meter arah angin ke timur. http://banyuwangihariini.com/letusan-gunung-kelud-mencapai-700-kilometer/